Friday, 19 April 2013




Pada malam yang sunyi dan cuaca yang sejuk itu telah mendorong Putra Eliq untuk naik ke permukaan laut, dan ombak membawa tubuhnya dekat dengan pantai iaitu pantai Permata Duyung.  Pada masa yang sama, pantai itu kelihatannya dipenuhi makhluk yang mempunyai tubuh seperti Putra Eliq.  Yang membuatkan Putra Eliq berbeza dengan makhluk itu ialah kaki dan ekor.  Putra Eliq mempunyai ekor yang sangat cantik berwarna biru keungguan, dan makhluk yang dilihatnya mempunyai sepasang kaki yang membolehkan makhluk itu berdiri, berjalan dan berlari.
Dalam masa sejenak, Putra Eliq bertanya pada dirinya bahawa kenapa dia tidak mempunyai sepasang kaki yang cantik seperti makhluk yang bermain di tepian pantai.  Dengan perasaan yang ingin tahu, Putra Eliq berenang secara senyap untuk mendekati kawasan pantai yang menjadi tempat makhluk berkaki itu beriadah dan tempat untuk mereka bermain.
 Dengan kehadiran makhluk berkaki di tempat itu membuatkan Putra Eliq semakin tertanya-tanya  dan ingin mengetahui dunia sebenar makhluk yang berkaki itu.  Keriangan diwaktu makhluk berkaki itu bermain membuatkan pantai itu berubah daripada bunyian ombak yang memukul pantai kepada bunyi gelak ketawa mereka.  Dalam masa yang sama, suasana malam itu berubah serta-merta menjadi sangat menggembirakan bagi Putra Eliq.
Dalam keriangan makhluk berkaki disepanjang pantai tersebut, Putra Eliq tertarik dengan satu cahaya lilin yang sedang menyala diatas batu besar.  Cahaya yang tidak pernah dilihat oleh putra Eliq selama ini membuatkan dirinya berenang mendekati cahaya itu.  Putra Eliq melibaskan ekornya yang cantik dan kuat itu dan berenang sejauh 180m daripada kelompok makhluk berkaki itu bermain.
Sebelum Putra Eliq sampai dikawasan yang berbatu itu, dari jauh Putra Eliq melihat seorang pemuda berdiri diatas batu sedang memegang lilin yang menyala itu.  Putra Eliq memperlahankan libasan ekornya takut pemuda itu mengetahui kewujudannya.  Putra Eliq berenang secara perlahan dan menyembunyikan diri dicela-cela batu itu dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh pemuda tersebut.

Pemuda yang berkulit putih dan tinggi itu memegang sebuah kotak berwarna unggu dan diletakkannya diatas air laut yang berombak.  Pemuda itu membuka kotak tersebut dan membuka ikatan rantai lehernya yang terukir namanya itu dimasukkan kedalam kotak tersebut.  Pada masa yang sama, pemuda itu meletakkan lilin yang sedang menyala diatas kotak itu dan dibiarkannya sahaja ombak membawa kotak itu jauh daripada pantai itu.  Pemuda itu beredar daripada kawasan tersebut.


 Dengan serta-merta Putra Eliq melibaskan ekornya yang kuat itu mendapatkan kotak yang dihanytutkan pemuda tersebut.  Dengan libasan ekor Putra Eliq yang kuat, lantas membuatkan pemuda itu terkejut dan melihat kearah kotak yang dihanyutkannya itu.  Dengan kepantasan Putra Eliq dibantu dengan ekornya yang kuat membuatkan dirinya dengan mudah menyelam kedasar laut.  Tetapi pemuda itu sempat melihat ekor Putra Eliq yang berwarna biru keungguan itu dan merasa kagum sekali kerana tidak pernah melihat ekor ikan yang sebegitu indah sekali.
 Beberapa saat kemudian, pemuda itu mendapati kotak yang dihanyutkannya itu hilang bersama-sama dengan ekor yang dilihatnya.  “Putra…oh... Putra.  Sini lah bah kau, balik kita”, panggilan ibu Putra dengan nama manja Shaputra dengan logat Rungus Dusunnya.  “Iya bonda” sahut Putra.
    
Didasar lautan, Putra Eliq membuka kotak yang berwarna unggu itu dan mendapati seutas rantai yang berukirkan nama Putra + Eliq.  Melihat akan ukiran nama itu, Putra Eliq terkejut dan dengan tidak sengaja melepaskan rantai itu dan hilang daripada pandangan matanya.  Tutttttttttttttttttttttttttttttt.... bunyi cengkerang amanat menandakan ayahanda dan bonda Putra Eliq memanggil semua penduduk Andulsia agar berkumpul.  Sebaik sahaja mendengarkan bunyi panggilan cengkerang amanat itu, Putra Eliq menangguhkan pencariannya dan berenang kembali ke Istana Andlusia milik Ayahanda dan Bondanya.



                                                                BERSAMBUNG-----> [SANTIKI DOLO KAMA KITA]            

No comments :

Post a Comment