Pada malam yang
sunyi dan cuaca yang sejuk itu telah mendorong Putra Eliq untuk naik ke
permukaan laut, dan ombak membawa tubuhnya dekat dengan pantai iaitu pantai
Permata Duyung. Pada masa yang sama,
pantai itu kelihatannya dipenuhi makhluk yang mempunyai tubuh seperti Putra
Eliq. Yang membuatkan Putra Eliq berbeza
dengan makhluk itu ialah kaki dan ekor.
Putra Eliq mempunyai ekor yang sangat cantik berwarna biru keungguan,
dan makhluk yang dilihatnya mempunyai sepasang kaki yang membolehkan makhluk
itu berdiri, berjalan dan berlari.
Dalam masa sejenak,
Putra Eliq bertanya pada dirinya bahawa kenapa dia tidak mempunyai sepasang
kaki yang cantik seperti makhluk yang bermain di tepian pantai. Dengan perasaan yang ingin tahu, Putra Eliq
berenang secara senyap untuk mendekati kawasan pantai yang menjadi tempat
makhluk berkaki itu beriadah dan tempat untuk mereka bermain.
Dalam keriangan
makhluk berkaki disepanjang pantai tersebut, Putra Eliq tertarik dengan satu
cahaya lilin yang sedang menyala diatas batu besar. Cahaya yang tidak pernah dilihat oleh putra
Eliq selama ini membuatkan dirinya berenang mendekati cahaya itu. Putra Eliq melibaskan ekornya yang cantik dan
kuat itu dan berenang sejauh 180m daripada kelompok makhluk berkaki itu
bermain.
Sebelum Putra Eliq
sampai dikawasan yang berbatu itu, dari jauh Putra Eliq melihat seorang pemuda
berdiri diatas batu sedang memegang lilin yang menyala itu. Putra Eliq memperlahankan libasan ekornya
takut pemuda itu mengetahui kewujudannya.
Putra Eliq berenang secara perlahan dan menyembunyikan diri dicela-cela
batu itu dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh pemuda tersebut.
Pemuda yang
berkulit putih dan tinggi itu memegang sebuah kotak berwarna unggu dan
diletakkannya diatas air laut yang berombak.
Pemuda itu membuka kotak tersebut dan membuka ikatan rantai lehernya
yang terukir namanya itu dimasukkan kedalam kotak tersebut. Pada masa yang sama, pemuda itu meletakkan
lilin yang sedang menyala diatas kotak itu dan dibiarkannya sahaja ombak
membawa kotak itu jauh daripada pantai itu.
Pemuda itu beredar daripada kawasan tersebut.
Dengan serta-merta
Putra Eliq melibaskan ekornya yang kuat itu mendapatkan kotak yang dihanytutkan
pemuda tersebut. Dengan libasan ekor
Putra Eliq yang kuat, lantas membuatkan pemuda itu terkejut dan melihat kearah
kotak yang dihanyutkannya itu. Dengan
kepantasan Putra Eliq dibantu dengan ekornya yang kuat membuatkan dirinya
dengan mudah menyelam kedasar laut.
Tetapi pemuda itu sempat melihat ekor Putra Eliq yang berwarna biru
keungguan itu dan merasa kagum sekali kerana tidak pernah melihat ekor ikan
yang sebegitu indah sekali.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu
mendapati kotak yang dihanyutkannya itu hilang bersama-sama dengan ekor yang
dilihatnya. “Putra…oh... Putra. Sini lah bah kau, balik kita”, panggilan ibu
Putra dengan nama manja Shaputra dengan logat Rungus Dusunnya. “Iya bonda” sahut Putra.
Didasar lautan,
Putra Eliq membuka kotak yang berwarna unggu itu dan mendapati seutas rantai
yang berukirkan nama Putra + Eliq.
Melihat akan ukiran nama itu, Putra Eliq terkejut dan dengan tidak
sengaja melepaskan rantai itu dan hilang daripada pandangan matanya. Tutttttttttttttttttttttttttttttt.... bunyi
cengkerang amanat menandakan ayahanda dan bonda Putra Eliq memanggil semua
penduduk Andulsia agar berkumpul. Sebaik
sahaja mendengarkan bunyi panggilan cengkerang amanat itu, Putra Eliq
menangguhkan pencariannya dan berenang kembali ke Istana Andlusia milik
Ayahanda dan Bondanya.
BERSAMBUNG-----> [SANTIKI DOLO KAMA KITA]



.jpg)
.jpg)

No comments :
Post a Comment